Mengenali Alergi pada Bayi
Sama
seperti kasus pada orang dewasa, alergi pada bayi dikelompokkan berdasarkan penyebab alerginya. Ada tiga penyebab
alergi yang berbeda termasuk permasalahan pernafasan, lingkungan sekitar, dan makanan. Karena bayi tidak mampu mengekspresikan melalui kata-kata tentang apa yang mereka rasakan ketika
alergi menyerang, sebagian besar dari mereka akan menangis tak henti-henti, dan mungkin juga akan berguling-guling terutama jika mereka merasa gatal.
Beberapa tanda-tanda yang menunjukkan kalau alergi akan muncul dan harus diwaspadai oleh pengasuh termasuk munculnya bintil,
ruam, bintik-bintik merah, pengelupasan kulit, eksim, hidung dan mata berair, gangguan pernafasan dan pembengkakkan di berbagai bagian tubuh. Ketika gejala seperti ini muncul, pengasuh harus segera mengenalinya dan menanganinya selayaknya alergi dengan mencari bantuan medis untuk sang bayi.
Alergi pada bayi yang terlihat seperti bintil pada kulit biasanya dengan mudah salah dikenali, dan dikira gigitan nyamuk. Bagaimanapun juga jika diperhatikan dengan lebih jeli, akan sangat mudah dibedakan dari gigitan nyamuk dari daerah kemunculannya, yaitu akan tetap muncul di tempat yang tertutup seperti punggung dan perut. Sedangkan bintik-bintik merah bisa disebabkan karena masalah lingkungan, terutama jika bintik itu muncul di bagian yang terkena kontak langsung.
Pada bayi yang disusui, bintik merah mungkin muncul ketika bayi alergi terhadap makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu.
Eksim juga bisa menjadi reaksi yang muncul dari bayi karena alergi. Biasanya eksim yang disebabkan alergi muncul di belakang telinga, atau di kulit kepala. Alergi yang muncul sebagai eksim biasanya sulit untuk dikenali karena pengasuhnya seringkali salah mengenalinya dengan kapalan di kepala atau kotoran yang sudah menetap di belakang telinga.
Beberapa gejala paling mudah untuk mengenali alergi pada bayi termasuk penyebab pembengkakkan di wajah, bibir atau mata si bayi.
Paramedis biasanya menganjurkan orang tua dan pengasuh untuk mencari bantuan medis sesegera mungkin untuk gejala-gejala seperti itu karena pembengkakkannya bisa menyebabkan peradangan di tenggorokan dan menghalangi jalur pernafasan. Jika yang terakhir terjadi, si bayi bisa mengalami
shock anafilaktik atau bahkan meninggal.
Di samping itu beberapa gejala yang cukup sulit untuk dikenali termasuk mata dan hidung berair. Gejala seperti ini, seringkali membuat bingung karena mirip dengan flu biasa atau sumbatan
kelenjar air mata di mana kadang si anak akan dirawat dengan salah, dan diberikan obat penghilang pembengkakkan atau pereda flu dan pilek. Karena alasan-alasan tersebut, orang tua dan pengasuh harus selalu berkonsultasi dengan dokter anak yang berkualitas dan menghindari pengobatan sendiri terhadap anak di bawah dua tahun.
Bayi yang disusui secara ekslusif juga mungkin memiliki alergi, dimana si bayi mengalami perut kembung,
sembelit atau diare. Pada bayi lain mungkin ada gejala seperti muntah setelah disusui, dan lebih sering mengeluarkan ASI lewat mulut. Pada beberapa kasus, alergi yang disebabkan makanan dalam menyusui bayi bisa disalah-artikan sebagai sakit perut. Tapi seorang dokter anak yang jeli pasti akan langsung mengenali gejalanya sebagai gejala alergi.
Apapun penyebab alergi pada bayi, orang tua dan pengasuh harus selalu waspada dengan gejala – gejala seperti bersin yang terlalu sering dan berlebihan, batuk kering, gelisah, hidung kaku atau berair, eksim,
diare, dan muntah karena hal ini bisa mengancam nyawa sang bayi.



