Manajemen Stres Pada Anak dalam Menghadapi Konflik Pernikahan

Dengan semua stres yang sepertinya mengambil alih segala aspek kehidupan kita, anak kita pun juga bisa mengalaminya. Dalam kenyataannya, mereka mengalami stres lebih dari seharusnya. Diantaranya karena mulai terjalinnya hubungan, gangguan dari teman disekolah, stres orang tua, pekerjaan sekolah, dan pekerjaan yang mereka miliki dalam kapasitas psikologis mereka, lebih dari yang bisa mereka tangani.
Dalam hal manajemen stres pada anak ketika menghadapi konflik pernikahan, mereka memiliki semua
penyebab stres tersebut diatas, dan tambah satu lagi. Tidak perlu dipertanyakan bahwa perceraian sangatlah berat bagi anak-anak. Sayangnya, anak-anak dalam keadaan ini dikasihani para orang dewasa yang mungkin sedang mengalami perpisahan dengan percekcokan yang sengit atau hubungan yang sangat perhitungan. Terkadang, hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua untuk anak-anak mereka dalam sebuah perceraian adalah saling memperlakukan dengan hormat.
Ada beberapa hal dasar yang bisa dilakukan orang tua dalam menangani manajemen stres bagi anak-anak dalam menghadapi konflik pernikahan orang tua mereka. Kedua orang tua harus ada bagi anak mereka untuk mendengarkan. Jangan berusaha memperbaiki masalah mereka, dengarkan saja. Berilah anak Anda beberapa penjelasan masuk akal kenapa Anda bercerai tanpa memberikan informasi yang tidak sanggup mereka cerna. Jadilah diri Anda sendiri dan pastikan bahwa perceraikan bukan salah mereka. Kedua orang tua harus melakukan yang terbaik untuk tidak bertengkar di depan anak - anak, atau katakan kepada mereka mengenai ketidak setujuan yang mungkin Anda miliki dengan pasangan Anda.
Anda memiliki pengaruh yang sangat besar dalam manajemen stres yang dialami anak ketika menghadapi konflik rumah tangga, hanya dengan tidak bertengkar di depan mereka selama dan setelah perceraian Anda akan memiliki pengaruh yang positif terhadap cara mereka menanggapi keadaan sulit ini. Karena sekarang adalah saat-saat perubahan, cobalah untuk menjaga segala sesuatunya tetap sama sebisa mungkin, rumah Anda, sekolah mereka, mobil dan aktifitas. Dan yang paling dasar, JANGAN gunakan anak sebagai senjata untuk saling melawan pasangan. Anak-anak butuh waktu berkualitas dengan masing-masing dari orang tua mereka dan rasa tenang bahwa Anda berdua mencintainya dan menghargainya. Jangan saling membatasi kesempatan pasangan untuk bertemu untuk saling menghukum, bahkan jika kelihatannya anak Anda bersedia.
Orang tua terkadang menggunakan anak mereka sebagai mata-mata untuk mempelajari apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mantan pasangannya. Jangan sekali-kali Anda melakukan hal ini! Jika mereka ingin memberi tahu Anda apa yang mereka lakukan, dengarkan dengan seksama dan sopan, tapi berhentilah disitu, yangan bertanya diluar hal itu, seperti “apakah kau menikmatinya?” Yang paling penting biarkan mereka menjalani masa kanak-kanaknya. Mereka bukanlah orang kepercayaan Anda, mereka bahkan jika mereka sudah beranjak dewasa. Dan jika Anda percaya mereka butuh sedikit bantuan ekstra maka berikanlah. Seorang konselor yang baik bisa memberikan keajaiban dalam manajemen stres anak yang menghadapi konflik pernikahan.
Anak yang mengalami perceraian orang tua mereka bisa merasakan marah, sakit, perpisahan, kesepian, rasa bersalah, dan depresi. Jika kesemuanya adalah emosi degatif, merekapun mampu merasakannya. Hidup mereka yang singkat akan terbalik dari atas kebawah, dari dalam keluar. Berikan mereka ruang dan dukunglah mereka untuk memulihkan diri dari stres.



